Kita sering menjumpai individu yang memiliki keahlian teknis tinggi, tetapi tanpa etos kerja yang baik, kemampuan tersebut dapat disalahgunakan. Oleh karena itu, budaya kerja yang positif harus terus dibangun, tidak hanya di tempat kerja, tetapi juga melibatkan keluarga dan masyarakat.
Aryadi menekankan pentingnya pelibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan Bulan K3, termasuk masyarakat umum, dunia pendidikan, dan UMKM. Berbagai agenda seperti olahraga, bakti sosial, dan kegiatan edukasi yang diselenggarakan menjadi bagian penting dari upaya membangun budaya K3 yang berkelanjutan.
“Keselamatan dan kesehatan kerja harus menjadi kebutuhan bersama, bukan hanya menjadi tanggung jawab internal perusahaan. Dengan melibatkan masyarakat, budaya K3 ini dapat menjadi tradisi yang membudaya di kalangan masyarakat,” ujarnya.
Aryadi juga menyoroti sejumlah isu global yang sensitif di sektor pertambangan, seperti insiden kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, penggunaan tenaga kerja asing, kerusakan lingkungan, hingga masalah illegal mining. Ia berharap seluruh pihak dapat berkolaborasi untuk menghadapi tantangan ini.
“Kami berharap seluruh pemangku kepentingan dapat berkolaborasi membangun sinergi untuk mengatasi isu-isu ini, atau setidaknya membuktikan bahwa kondisi di lapangan tidak seperti isu negatif yang berkembang,” imbaunya.
Sebagai seorang inovator Program PePaDu Plus yang telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal dan berhasil meraih penghargaan dua tahun berturut-turut, Aryadi mengimbau bahwa saat ini bekerja dengan hanya mengandalkan konsep-konsep konvensional dan tradisional sudah tidak relevan.
Menurutnya, kolaborasi ini harus didukung oleh kreativitas dan inovasi untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan, bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk memperkuat kebersamaan dalam menghadapi isu-isu tersebut.

“Konsep PePaDu Plus ini juga dapat diadaptasi di sektor pertambangan untuk meningkatkan kapasitas SDM yang mandiri dan berdaya saing,” tambahnya.